RUANG Meranti, Kantor Bupati Kutai Timur, siang itu terasa berbeda. Cahaya matahari yang menembus sela jendela jatuh lembut di lantai, seakan ingin menuntun seorang remaja menuju panggung agar melangkah dengan pasti ke podium kehormatan.
Dengan balutan batik wakaroros dan celana putih seragam sekolahnya, Abdul Fatah, siswa kelas XI SMA Negeri 1 Rantau Pulung, menegakkan bahunya. Raut wajahnya tenang, namun matanya menyimpan riwayat panjang tentang kehilangan dan keteguhan.
Di hadapannya duduk Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, jajaran manajemen PT Kaltim Prima Coal (KPC), serta para tamu undangan. Namun yang paling ia rasakan hari itu bukanlah gemerlap seremoni penerimaan Beasiswa Berdaya KPC, melainkan kehadiran kedua orang tuanya dalam doa.
Abdul adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Sejak kecil ia menjadi yatim piatu. Hidupnya bertumpu pada kasih seorang kakak perempuan yang kini telah berkeluarga. Di rumah sederhana di Rantau Pulung, ia belajar memaknai kehilangan sebagai alasan untuk tetap kuat.
“Saya yatim piatu sejak kecil. Sejak ditinggal kedua orangtua, saya bergantung kepada kakak saya,” ucapnya lirih, tetapi tegas.
Di balik kalimat itu ada malam-malam panjang dengan buku pelajaran dan mimpi yang ia jaga agar tak ikut padam. Baginya, sekolah bukan sekadar kewajiban. Ia adalah jalan keluar. Ia adalah jembatan untuk membuktikan bahwa anak desa pun bisa berdiri sejajar.
Ketika namanya diumumkan sebagai penerima Beasiswa Berdaya KPC dan bahkan dipercaya mewakili rekan-rekannya untuk menyampaikan sambutan, Abdul tidak hanya membawa namanya sendiri ke atas podium. Ia membawa harapan anak-anak Rantau Pulung yang tumbuh dalam keterbatasan.
“Terima kasih KPC. Bantuan ini memberi secercah harapan untuk saya lebih giat belajar, menjadi orang sukses, membuktikan bahwa saya mampu mandiri dan berbakti kepada almarhum bapak dan ibu,” tuturnya, dengan suara yang nyaris bergetar.
Hari itu, Abdul tidak sekadar berdiri. Ia bangkit.
Di sudut lain ruangan, seorang gadis muda dari Sangatta Utara melangkah maju untuk menerima plakat simbolis beasiswa. Namanya Aisyah Kautsar. Senyumnya teduh, tetapi sorot matanya menyimpan keberanian yang sama. Keberanian untuk bermimpi jauh dari tanah kelahiran.
Kini ia menempuh studi Teknik Informatika dan memasuki semester dua di President University, Bekasi, Jawa Barat. Jauh dari Kalimantan, jauh dari keluarga, tetapi dekat dengan cita-cita.
“Kesempatan dari KPC ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Saya bisa berjuang menimba ilmu di luar Kalimantan,” katanya.
Di kota rantau, Aisyah belajar tentang algoritma, kode, dan logika. Tetapi lebih dari itu, ia belajar tentang kemandirian. Ia memendam satu tekad yang selalu ia bawa pulang dalam doa “kembali ke Kutai Timur dengan ilmu yang cukup untuk membangun daerahnya sendiri”.
“Harapan saya, bisa pulang membawa ilmu yang bermanfaat untuk membuat Kutai Timur lebih maju,” ujarnya.
Melalui Program Beasiswa Berdaya 2025, PT Kaltim Prima Coal kembali menegaskan bahwa investasi terbesar bukan hanya pada sumber daya alam, melainkan pada manusia. Tahun ini, sebanyak 165 penerima dari jenjang SMP hingga perguruan tinggi, bahkan S2 dan S3 mendapatkan dukungan pendidikan.
Manager External Relation Nanang Supriyadi, menyebut pendidikan sebagai fondasi pemberdayaan. Tanpa pendidikan, komunitas tak akan pernah benar-benar berdaya saing.
GM External Affairs and Sustainable Development Wawan Setiawan mengatakan, beasiswa KPC itu bukan sekadar bantuan biaya. Melainkan sebuah pengakuan bahwa mimpi anak-anak Kutai Timur layak diperjuangkan. “Kami ingin meyakinkan anak-anak Kutai Timur bahwa keterbatasan ekonomi bukan akhir dari perjalanan. Yang terpenting, tunjukan prestasi. Kami siap mendukung melalui program beasiswa KPC,” kata Wawan.
Bagi Abdul, beasiswa itu adalah jembatan dari kehilangan menuju kehormatan.
Bagi Aisyah, beasiswa itu adalah sayap untuk terbang jauh dan kelak pulang dengan cahaya.
Di antara tepuk tangan dan seremoni, ada sesuatu yang lebih sunyi namun lebih kuat, yakni harapan yang dinyalakan.
Dan ketika harapan itu tumbuh dalam diri anak-anak muda seperti Abdul dan Aisyah, masa depan Kutai Timur sedang ditulis pelan, tetapi pasti, dengan tinta ketekunan dan kesempatan.(*)


















