DI SEBUAH gang kecil bernama Wana Asri, Jalan Kamarema, Dusun Danau Raya, Desa Persiapan Pinang Raya, Sangatta Selatan, sekelompok ibu rumah tangga diam-diam sedang menulis kisah kemandirian mereka sendiri.

Dorongan ekonomi menjadi awalnya. Tahun 2021, dua sahabat, Sri Subekti dan Arniati, resah melihat para ibu di lingkungannya tak punya banyak pilihan penghasilan. Mereka lalu menggagas usaha nursery persemaian sayur seperti terong, bawang, lombok, dan lainnya. Usaha itu sempat berjalan, tapi tak lama.
“Harus mencangkul, ibu-ibu enggak kuat,” ujar Sri yang kini menjabat Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Berseri, didampingi Arniati sebagai sekretaris.
Gagal, mereka tidak bubar. Justru dari kegagalan itu, lahir jalan baru. Sri mengikuti pelatihan budidaya jamur tiram di kantor desa pada 2022. Ia tertarik, lalu mengajak anggota KWT mencoba usaha itu. Mereka belajar dari nol bersama pendamping lokal, bahkan sempat dibimbing ahli dari Samarinda.
Percobaan pertama hanya 100 hingga 200 baglog. Ternyata berhasil. Produksi harian bisa 3–4 kilogram, dijual Rp30 ribu per kilo saat itu. Semangat kian tumbuh, KWT pun memperbanyak baglog menjadi 3.000. Bibit kini menggunakan produk lokal dari Teluk Pandan. Produksi melonjak. “Alhamdulillah sekarang bisa 25 kilo per hari dari 12 rumah jamur,” kata Arniati.
Kini KWT Berseri memiliki 28 anggota. Dan mereka tidak berjalan sendiri. Pertamina EP Sangatta hadir sebagai mitra yang mendorong kemajuan mereka. Bantuan berupa baglog, dapur produksi, alat kukus, pencacah, mesin pres, alat kemas, sampai alat penghancur serbuk disalurkan melalui program CSR.
Hasilnya tak hanya jamur mentah. Kreativitas ibu-ibu ini melahirkan produk turunan: Keripik Jamur Tiram Berseri dan Sambal Jamur Tiram Berseri. Ada rasa original, balado, hingga cokelat. Produk mereka bahkan sudah mengantongi sertifikat halal dan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI).
“Soal omset, memang belum besar. Jamur mentah bisa 5–6 juta. Produk olahan 4–5 juta per bulan,” ujar Sri, tersenyum malu.
Produksi keripik dan sambal hanya dilakukan empat kali sebulan. Bukan karena kurang pasar, tetapi masih keterbatasan bahan baku. Sebagian besar jamur masih dijual mentah.
Meski begitu, jangkauan mereka tak bisa diremehkan. Produk olahan KWT Berseri sudah terbang ke Jakarta, Pulau Bali, dan beberapa kota lain. Mereka juga rajin mengikuti pameran UMKM di Kukar, Berau, hingga event lokal. Di Sangatta, produk mereka sudah tersedia di sejumlah hotel dan toko oleh-oleh.
Ada hal menarik lainnya. Hampir seluruh bahan produksi mereka berbasis limbah. Fitri Azizah dari CSR Pertamina EP Sangatta Field menyebut, itulah salah satu alasan pendampingan penuh diberikan sejak 2021. “Kami lihat ada potensi, ada SDM, dan berkembang. Sekarang full kami dampingi,” katanya.
Limbah pelepah sawit digunakan sebagai bahan serbuk media tanam. Minyak jelantah dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Warga sekitar ikut terlibat dalam prosesnya.
Dari kegagalan nursery, dari limbah, dan dari ruang kecil di kampung, KWT Berseri membuktikan bahwa ekonomi keluarga bisa tumbuh dari keberanian mencoba kembali. Dan Sri Subekti tak pernah menyesal mengambil langkah pertama itu.(*)


















