VIRALKALTIM — Perjuangan atlet bulutangkis Kutai Timur (Kutim) pada ajang Sirkuit Nasional (Sirnas) C Piala Bupati Kutim 2026 menghadapi tantangan berat. Memasuki hari kedua pertandingan, mayoritas wakil tuan rumah harus tersingkir setelah menghadapi atlet-atlet unggulan dari berbagai daerah yang telah memiliki ranking point nasional dan pengalaman bertanding di level tinggi.
Dominasi klub-klub besar nasional seperti Jaya Raya Jakarta dan Mutiara Cardinal Bandung terlihat jelas di sejumlah nomor pertandingan kelompok usia dini hingga taruna. Atlet-atlet lokal, termasuk wakil dari PB Kalia Nusa, belum mampu membendung permainan lawan yang tampil lebih matang, baik dari sisi teknik, fisik maupun mental bertanding.
Direktur Turnamen Sirnas C Piala Bupati Kutim 2026, Aang Syahrudin, mengatakan hasil tersebut sejatinya sudah diperkirakan sejak awal. Menurutnya, para atlet yang datang ke Sangatta merupakan pemain-pemain dengan level pembinaan nasional yang telah terbiasa mengikuti turnamen bergengsi di berbagai daerah.
“Kalau untuk atlet Kutim bersaing di sirkuit nasional sekelas Sirnas ini memang masih agak berat. Karena yang datang ini atlet-atlet yang sudah punya ranking point dan pengalaman bertanding tinggi,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Ia menjelaskan, salah satu kendala utama pembinaan di Kutim terletak pada minimnya intensitas latihan dan jam terbang atlet. Klub-klub besar di Pulau Jawa maupun kota besar di Kalimantan Timur seperti Balikpapan telah menerapkan pola latihan dua kali sehari dengan dukungan fasilitas dan pelatih profesional.
Sementara di Kutim, jadwal latihan masih harus menyesuaikan aktivitas sekolah sehingga waktu pembinaan relatif terbatas. Kondisi tersebut dinilai berpengaruh terhadap daya tahan fisik dan kesiapan mental atlet saat menghadapi pertandingan kompetitif.
Meski demikian, kekalahan para atlet lokal di Sirnas C ini diharapkan menjadi bahan evaluasi dan motivasi untuk meningkatkan kualitas pembinaan.
Aang menegaskan bahwa kompetisi nasional seperti Sirnas menjadi momentum penting bagi atlet Kutim untuk menambah pengalaman bertanding menghadapi lawan dengan level permainan lebih tinggi. Ia menyebut mental bertanding tidak bisa dibentuk hanya melalui latihan rutin, tetapi juga dari frekuensi mengikuti turnamen di luar daerah.
Selain itu, PBSI Kutim saat ini lebih memfokuskan pembinaan atlet menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang. Sirnas C disebut sebagai ajang pengukuran kemampuan atlet sekaligus evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan yang berjalan selama ini.
Menurutnya, klub-klub di Kutim juga perlu mulai memikirkan kemandirian fasilitas latihan agar tidak terus bergantung pada penyewaan GOR umum yang sering menghambat konsistensi program latihan.
“Ini menjadi tolak ukur bagi pelatih dan klub di Kutim untuk lebih giat lagi dalam membina, agar ke depan kita tidak hanya jadi penonton di rumah sendiri,” pungkasnya.(*)


















