VIRALKALTIM– Angka stunting di Kabupaten Kutai Timur terus menunjukkan tren penurunan. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kutim, Achmad Junaidi, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) terbaru, prevalensi stunting di Kutim turun dari 29 persen menjadi 26 persen. Penurunan ini menjadi indikasi bahwa berbagai program intervensi pemerintah daerah mulai memberikan hasil positif.
Achmad Junaidi menjelaskan bahwa dari total angka tersebut, tercatat 6,3 persen anak masuk kategori gizi sangat buruk atau “seperlay”, sementara sekitar 20 persen lainnya dikategorikan sebagai stunting umum.
Ia menegaskan bahwa meskipun terjadi penurunan, tantangan masih cukup besar karena kasus gizi buruk membutuhkan penanganan lebih intensif dan cepat. “Ini progres baik, namun masih banyak yang harus dikerjakan,” ujarnya.
Menurut Junaidi, stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebab utamanya meliputi kurangnya asupan gizi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan, sanitasi lingkungan yang buruk, minimnya akses terhadap air bersih, pola asuh yang kurang tepat, hingga kondisi ekonomi keluarga yang membatasi kebutuhan gizi anak. Selain itu, kurangnya pengetahuan orang tua terkait gizi seimbang juga menjadi salah satu faktor signifikan.
Pencegahan stunting, lanjutnya, harus dilakukan secara terpadu melalui upaya perbaikan gizi ibu hamil, pemberian makanan bergizi seimbang bagi balita, peningkatan kualitas sanitasi, dan pelayanan kesehatan dasar yang memadai. Junaidi juga menekankan pentingnya edukasi kepada para orang tua, terutama tentang ASI eksklusif, imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan anak secara rutin di posyandu.
Ia menambahkan bahwa pemerintah kabupaten terus memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dinas kesehatan, DP2KB, pemerintah desa, fasilitas kesehatan, serta kader posyandu dalam menekan angka stunting. Menurutnya, pendekatan kolaboratif sangat diperlukan karena stunting tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga pendidikan, ekonomi, dan lingkungan. “Kita bergerak bersama agar semua faktor penyebab bisa ditekan,” jelasnya.
Dengan adanya penurunan angka stunting yang cukup signifikan, Pemerintah Kutim optimistis dapat mencapai target nasional dalam beberapa tahun ke depan. Achmad Junaidi berharap seluruh masyarakat turut berperan dalam menjaga kesehatan anak sejak dini.
“Ini tugas bersama. Dengan kepedulian kolektif, kita bisa wujudkan generasi Kutim yang lebih sehat dan berkualitas,” tegasnya.(dy)


















