VIRALKALTIM – Produksi madu di Kabupaten Kutai Timur masih dilakukan dengan skala kecil, sehingga ekspor belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat.
Dinas Koperasi dan UKM Kutai Timur, melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro (PUM) Pasombaran menjelaskan, bahwa meskipun madu yang dihasilkan Kutai Timur terutama madu kelulut yang banyak ditemukan di beberapa daerah memiliki kualitas yang sangat baik dan rasa yang unik, jumlah produksi yang terbatas menjadi hambatan utama untuk memasuki pasar luar negeri.
“Untuk melakukan ekspor, kita membutuhkan kontinuitas produksi yang stabil dan kuantitas yang cukup untuk memenuhi permintaan pasar global,” ujar Pasombaran.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar pelaku UMKM yang memproduksi madu masih menggunakan metode tradisional, yang membuat kuantitas produksi sulit meningkat.
Selain itu, masalah penyimpanan dan kemasan yang belum sesuai standar juga menjadi faktor yang menghambat.
Namun, pemerintah daerah tidak berhenti memberikan pendampingan. Pasombaran menyampaikan bahwa Dinas Koperasi dan UKM terus melakukan pendampingan untuk memperbaiki kualitas, kuantitas, dan legalitas produk madu.
Pelatihan yang diberikan termasuk cara budidaya lebah yang lebih baik untuk meningkatkan produksi madu, pengolahan madu yang higienis, dan perbaikan kemasan agar lebih tahan lama.
“Alhamdulillah, kita sudah melihat perkembangan positif beberapa pelaku UMKM telah berhasil meningkatkan produksi madu hingga 20% setelah mendapatkan pelatihan,” jelasnya.
Harapannya, dengan peningkatan skala produksi dan kontinuitas yang lebih baik, madu Kutim bisa segera melakukan ekspor dalam waktu 1-2 tahun ke depan. Tim pendampingan juga sedang mencari pembeli potensial dari negara-negara yang membutuhkan madu berkualitas, seperti Singapura dan Arab Saudi. (Adv/ss)


















