VIRALKALTIM — Kepala Disdikbud Kutai Timur, Mulyono, menyatakan bahwa program Sitisek merupakan aksi nyata pemerintah dalam memastikan pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Kutim.
Ia menegaskan bahwa Sitisek tidak hanya berupa konsep, tetapi gerakan terstruktur yang dirancang untuk menyelesaikan persoalan mendasar, yaitu tingginya Anak Tidak Sekolah (ATS).
“Ini bentuk keseriusan pemerintah. Tak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan belajar,” jelasnya.
Mulyono memaparkan bahwa Kutim menghadapi tantangan besar dengan angka ATS mencapai 13.411 anak berdasarkan data Pusdatin Maret 2025. Dengan jumlah tersebut, Kutim berada di posisi tertinggi se-Kaltim.
Ia menyebut kondisi ini tidak bisa dibiarkan karena dapat menghambat kualitas SDM dan berdampak langsung pada ketimpangan sosial. “Jika ini tidak ditangani, kita akan kalah dalam kompetisi pembangunan,” ujarnya.
Menurutnya, Sitisek disusun dengan kerangka kerja yang terintegrasi mencakup pendataan detail, analisis penyebab ATS, serta pendekatan ke keluarga dan komunitas. Intervensi dilakukan berdasarkan situasi riil di lapangan sehingga solusi dapat diterapkan secara cepat.
“Kami tidak bekerja di atas kertas. Semua berdasarkan data yang kami temukan di lapangan,” papar Mulyono.
Ia menekankan bahwa Sitisek juga membawa misi besar dari Asta Cita poin 4, yang menegaskan pentingnya pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan.
Dengan mengacu pada kebijakan nasional tersebut, Kutim memastikan seluruh anak, termasuk di wilayah yang sulit dijangkau, mendapatkan perlakuan yang adil.
“Tidak boleh ada perbedaan layanan antara mereka yang di kota dan yang di pedalaman,” tambahnya.
Mulyono menyebut penyebab ATS sangat beragam, mulai dari faktor ekonomi, geografis, sosial, hingga minimnya fasilitas. Karena itu, pihaknya menggandeng berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat. Program penjangkauan langsung, bantuan pendidikan, serta penguatan peran sekolah dijalankan secara paralel.
“Kami bergerak bersama. Ini bukan hanya tanggung jawab Disdik, tapi semua,” tegasnya.
Di akhir, Mulyono mengajak seluruh pihak untuk terlibat dalam gerakan Sitisek agar Kutim tidak lagi menjadi daerah dengan ATS tertinggi. Ia menargetkan penurunan signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
“Kami ingin lihat perubahan nyata. Anak-anak Kutim harus tumbuh dengan kesempatan yang sama. Sitisek hadir untuk memastikan itu,” tutupnya.(dy)


















