VIRALKALTIM – Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat kecintaan generasi muda terhadap seni dan kearifan lokal. Program ini sekaligus diharapkan dapat membantu mengatasi keterbatasan tenaga pendidik pada mata pelajaran seni dan budaya di satuan pendidikan.
Melalui GSMS, seniman profesional akan terlibat langsung dalam proses pembelajaran seni di sekolah. Para siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teori, tetapi juga memperoleh pengalaman praktik langsung dari pelaku seni.
Program tersebut menyasar pelajar mulai jenjang SD, SMP, SMA/SMK hingga SLB. Selain menumbuhkan kecintaan terhadap seni dan budaya Indonesia sejak usia dini, kegiatan ini diharapkan mampu menjaring talenta-talenta berbakat di bidang seni.
“Ini juga untuk mengatasi kekurangan guru mata pelajaran seni dan budaya di satuan pendidikan,” ujarnya.
Kehadiran seniman di lingkungan sekolah dinilai dapat memberikan pengalaman berbeda bagi siswa. Mereka dapat mempelajari berbagai cabang seni, mulai dari seni tari, musik, teater hingga seni kriya secara langsung dari orang-orang yang memang berkecimpung di bidang tersebut.
Di sisi lain, penguatan seni lokal menjadi perhatian penting. Generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal budaya populer dari luar, tetapi juga memahami dan mencintai budaya daerahnya sendiri.
“Arah berpikirnya adalah menanamkan nilai seni lokal pada generasi lokal. Anak-anak kita jangan hanya tahu K-pop dan lainnya. Ini juga tersambung dengan muatan lokal,” ujarnya.
Penguatan budaya lokal juga dilakukan melalui rencana pelatihan bagi guru muatan lokal Bahasa Kutai. Pelatihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas guru dalam menyampaikan bahasa dan budaya Kutai kepada peserta didik.
Pelaksanaan GSMS sendiri membutuhkan kolaborasi antara seniman, sekolah, pemerintah daerah dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan sekaligus membuka ruang lebih luas bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi seni mereka.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kecintaan terhadap seni, budaya dan kearifan lokal Kutai Timur.(dy/adv)


















