VIRALKALTIM – Vasektomi atau kontrasepsi mantap bagi pria tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, menegaskan terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi calon akseptor sebelum menjalani prosedur tersebut.
Kepala Bidang Keluarga Berencana DPPKB Kutim, Mustika, mengatakan vasektomi merupakan pilihan kontrasepsi yang membutuhkan kesiapan dan pertimbangan matang dari pasangan suami istri.
“Kenapa dibilang KB mantap, semuanya harus mantap. Karena satu, tidak ingin punya anak lagi. Nah, itu harus mantap dulu,” kata Mustika saat ditemui wartawan di Kantor DPPKB Kutim, Selasa (1/9/2026).
Menurut dia, salah satu persyaratan utama adalah adanya kesepakatan antara suami dan istri. Selain itu, calon akseptor harus berada dalam kondisi sehat dan telah memenuhi batas usia minimal 35 tahun.
Pasangan yang memilih vasektomi juga idealnya telah memiliki sedikitnya dua anak. Berbagai persyaratan tersebut diberlakukan untuk memastikan keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan kesepakatan dan kesiapan keluarga.
Mustika mengatakan kondisi ekonomi keluarga juga perlu menjadi pertimbangan. Menurutnya, program keluarga berencana tidak dimaksudkan untuk membatasi keluarga yang secara ekonomi masih mampu memenuhi kebutuhan dan hak anak.
“Kalau ekonominya bagus, kenapa harus ber-KB? Kalau dia masih bisa, kita tidak mencegah tidak punya anak lagi. Tapi kalau silakan banyak anak, cukupkan hak-hak anak yang ada,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat perlu memahami bahwa vasektomi merupakan metode kontrasepsi yang bersifat permanen. Karena itu, keputusan untuk menjalani prosedur tersebut harus dipikirkan secara matang sejak awal.
Meski pelayanan vasektomi dapat diberikan secara gratis melalui program pemerintah, upaya untuk mengembalikan kesuburan setelah prosedur tersebut bukan perkara mudah. Prosesnya membutuhkan tindakan medis tertentu dengan biaya yang tidak sedikit dan tidak menjamin keberhasilan.
“Makanya enggak gratis untuk mengembalikan. Itu dipilihkan dari awal. Susah untuk mengembalikan lagi,” kata Mustika.
DPPKB Kutim, lanjut dia, terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai vasektomi, termasuk meluruskan berbagai anggapan yang keliru. Edukasi diperlukan agar kontrasepsi mantap bagi pria dipahami sebagai bagian dari perencanaan keluarga, bukan dimanfaatkan sebagai alasan untuk melakukan perilaku yang menyimpang atau tidak bertanggung jawab.
Dengan pemahaman yang tepat, keputusan menggunakan vasektomi diharapkan benar-benar menjadi pilihan sadar pasangan dalam merencanakan kehidupan keluarga dan memenuhi hak-hak anak.(adv/dy)


















