VIRALKALTIM – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus mendorong peningkatan kapasitas kelembagaan sekaligus penguatan seni dan budaya lokal. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan pelatihan tata kelola kelembagaan, seni tarsul, serta seni teater Kutai.
Kegiatan tata kelola kelembagaan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pengelola organisasi dalam menjalankan administrasi secara tertib dan profesional. Kemampuan tersebut dinilai penting, terutama bagi lembaga maupun organisasi yang akan mengajukan berbagai bentuk bantuan, baik melalui pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
“Pertama tata kelola kelembagaan, administrasi kelembagaan atau organisasi. Ini perlu dilatih. Apalagi dalam pengajuan bantuan, baik dari tingkat daerah sampai pusat,” ujar Kabid Kebudayaan, Ilham.
Selain penguatan kelembagaan, Disdikbud juga memberikan perhatian terhadap pengembangan seni tradisional melalui pelatihan seni tarsul. Tarsul merupakan tradisi lisan dan nyanyian tradisional berupa syair bersusul atau pantun yang menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat Suku Kutai di Kalimantan Timur.
Pelatihan juga mencakup seni teater Kutai. Seni teater menjadi ruang ekspresi budaya yang menggabungkan akting, dialog, gerak, tari dan musik untuk menceritakan kehidupan manusia di atas panggung.
Pengembangan kedua kesenian tersebut tidak hanya diarahkan untuk kegiatan pertunjukan, tetapi juga diupayakan masuk ke dalam pembelajaran di sekolah melalui pengembangan kurikulum muatan lokal.
“Untuk seni ini kita kembangkan kurikulum muatan lokal. Sementara kita buat buku dan distribusikan di semua sekolah. Harapan kita tersambung dengan SDM kita,” jelasnya.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah kemampuan yang perlu ditingkatkan, baik dari sisi kelembagaan maupun kompetensi dalam bidang seni dan budaya. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program kebudayaan di Kutai Timur.
Perkuat Muatan Lokal
Pengembangan seni dan budaya lokal tersebut sejalan dengan penerapan Kurikulum Merdeka yang digunakan sebagai kerangka dasar pembelajaran nasional di berbagai satuan pendidikan di Kutai Timur.
Pembelajaran juga dapat diperkuat melalui kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), yang menjadi salah satu ruang bagi peserta didik untuk mengenal nilai-nilai budaya, lingkungan dan kehidupan sosial di sekitarnya.
Di sisi lain, Disdikbud Kutim terus mengembangkan kurikulum muatan lokal Bahasa Kutai. Kurikulum tersebut diarahkan untuk diterapkan pada jenjang pendidikan, khususnya sekolah dasar, sebagai bagian dari upaya melestarikan bahasa daerah.
Pembelajaran Bahasa Kutai diharapkan mampu memperkuat identitas budaya lokal sekaligus menjaga agar bahasa daerah tetap hidup dan digunakan oleh generasi muda di tengah perkembangan zaman.
Penguatan kearifan lokal juga dilakukan sejak pendidikan anak usia dini (PAUD). Kurikulum PAUD berbasis kearifan lokal dirancang dengan modul pembelajaran yang mengenalkan nilai-nilai budaya setempat kepada anak sejak usia dini.
Program tersebut diperkuat melalui sosialisasi dan pendampingan bagi para pendidik di Kutai Timur. Dengan berbagai program tersebut, Disdikbud Kutim berharap pendidikan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga generasi yang memahami, mencintai dan mampu melestarikan identitas budaya daerahnya.
Penguatan kelembagaan, seni tarsul, teater Kutai, bahasa daerah hingga pendidikan berbasis kearifan lokal diharapkan menjadi bagian yang saling terhubung dalam membangun sumber daya manusia Kutai Timur yang berkarakter dan berakar pada budaya lokal.(adv/dy)


















