VIRALKALTIM – Anggota Fraksi Golongan Karya (Golkar) DPRD Kutai Timur, Hasbollah, menyampaikan pandangan strategisnya terkait pentingnya mendorong industrialisasi sektor pertanian sebagai upaya menarik minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian.
Menurutnya, transformasi menuju sistem pertanian modern menjadi kunci agar profesi petani tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan. “Selama petani masih identik dengan cangkul dan kerja tradisional, minat anak muda pasti rendah,” jelasnya.
Ia menegaskan, tantangan utama petani saat ini adalah biaya produksi yang tinggi sementara harga komoditas, khususnya beras, sering ditekan melalui berbagai intervensi pasar.
Kondisi ini membuat banyak petani sulit mencapai kesejahteraan. Hasbollah menilai, industrialisasi adalah jalan keluar yang realistis, karena dapat meningkatkan nilai tambah produksi serta membuka peluang usaha baru yang lebih menarik bagi generasi milenial.
Dalam berbagai forum diskusi dan penyuluhan, Hasbollah selalu menekankan pentingnya keterlibatan anak muda dalam sektor pangan. Namun, ia menyadari hal tersebut hanya bisa terjadi apabila pemerintah menyediakan ekosistem yang mendukung, mulai dari pelatihan keterampilan, akses teknologi, hingga pendampingan di lapangan.
“Bertani itu bukan teori saja, butuh pengalaman, butuh praktik nyata,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyebutkan bahwa industrialisasi tidak hanya membuat sektor pertanian lebih modern, tetapi juga menjadikannya lapangan pekerjaan yang menawarkan pendapatan lebih besar. Dengan perkembangan teknologi dan hadirnya industri hilir, generasi muda akan melihat pertanian sebagai bidang yang prospektif dan masa depan.
Selain itu, Komisi B DPRD Kutai Timur juga mendorong percepatan hilirisasi kelapa sawit sebagai bagian dari upaya memperkuat industri pengolahan lokal.
Hasbollah mengungkapkan bahwa Kutim memiliki potensi besar karena banyak perusahaan sawit yang sudah beroperasi, namun produksi hilir masih minim di daerah. Ia menilai kehadiran pabrik pengolahan seperti minyak goreng, sabun, atau produk turunan lainnya akan memberikan dampak ekonomi signifikan.
Menurutnya, hilirisasi tidak hanya menambah lapangan kerja, tetapi juga meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selama ini, sebagian besar CPO dikirim keluar Kutim sehingga daerah belum memperoleh manfaat maksimal.
“Kalau industrinya dibangun di sini, dampaknya langsung terasa bagi masyarakat,” katanya.
Hasbollah juga menyoroti kawasan industri Maloi yang ditetapkan pemerintah sebagai pusat pengembangan industri masa depan. Ia optimistis kawasan tersebut mampu menarik investor besar apabila pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan fasilitas penunjang.
Kehadiran industri besar, lanjutnya, akan semakin memperkuat posisi Kutim sebagai pusat ekonomi berbasis pertanian dan perkebunan.
Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa industrialisasi pertanian adalah langkah maju yang harus dilakukan bersama, baik oleh pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat.
Dengan dukungan semua pihak, ia yakin Kutai Timur mampu membangun ekosistem pertanian modern yang diminati generasi muda dan berkontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi daerah.(dy/adv)


















