VIRALKALTIM, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) terus mendorong percepatan investasi hilirisasi kelapa sawit melalui program Investment Project Ready to Offer (IPRO).
Kepala DPMPTSP Kutai Timur, Novian Prananta, didampingi Penata Kelola Penanaman Modal Ahli Madya Muhammad Yani dan Totok Supriadi Jabatan Penata Perizinan Ahli Muda menyampaikan bahwa IPRO komoditas turunan kelapa sawit berbasis kimia (oleochemical) di Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK) menjadi salah satu proyek unggulan yang siap ditawarkan kepada investor.
Menurutnya, Kutim memiliki potensi besar dalam pengembangan industri hilir sawit, mulai dari sektor pangan hingga kimia, yang mampu menciptakan nilai tambah bagi daerah.
Novian menjelaskan, KEK MBTK memiliki berbagai keunggulan yang mendukung masuknya investasi, di antaranya ketersediaan lahan clear and clean seluas 509,496 hektare, biaya sewa lahan yang kompetitif dengan masa bebas sewa hingga empat tahun, serta dukungan regulasi yang memberikan insentif dan kemudahan berusaha.
Selain itu, pemerintah daerah bersama pemerintah provinsi dan pusat terus membenahi infrastruktur jalan sebagai akses utama menuju kawasan industri.
“IPRO diharapkan menjadi acuan bagi investor untuk melihat proyek investasi yang telah siap, jelas, dan memiliki prospek pengembangan yang menjanjikan,” ujarnya.
Melalui IPRO, Kutai Timur menawarkan peluang investasi pada industri turunan kelapa sawit berbasis makanan (oleofood) seperti pabrik minyak goreng, serta industri berbasis kimia (oleochemical) seperti pabrik biodiesel dan produk turunannya.
Program ini juga diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat peran koperasi rakyat, serta menjadikan Kutai Timur sebagai pusat industri sawit terpadu yang menghasilkan produk pangan dan kimia ramah lingkungan.
Sejalan dengan dokumen IPRO 2025 Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Kutai Timur diproyeksikan berkembang menjadi pusat industri oleokimia dan pangan strategis di kawasan Timur Indonesia, sekaligus mendukung transformasi ekonomi daerah menuju sektor industri bernilai tambah di luar pertambangan.(*)


















