VIRALKALTIM, KAUBUN – Upaya penanganan keluarga berisiko stunting (KRS) terus digeber oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim. Kali ini di Kecamatan Kaubun dengan program layanan jemput bola keluarga berisiko stunting yang digelar di BPU Desa Bumi Rapak, Kecamatan Kaubun, Rabu (12/8/2026).
Plh Kepala DPPKB Kutim, Yuriansyah, mengatakan layanan jemput bola menjadi bagian dari implementasi 50 Program Unggulan Bupati Kutim, khususnya Prioritas Nomor 22 tentang Layanan Jemput Bola Stop Stunting.
Menurutnya, penanganan KRS membutuhkan kerja bersama karena persoalan yang dihadapi setiap keluarga berbeda. Mulai dari kondisi ekonomi, kesehatan balita, akses air bersih dan jamban sehat, rumah layak huni, hingga pola penggunaan kontrasepsi.
“Bersiko stunting belum tentu berarti anaknya terkena stunting. Karena itu, indikator penyebabnya harus segera kita tangani agar keluarga tersebut bisa keluar dari data keluarga berisiko stunting,” kata Yuriansyah.
Berdasarkan data Sistem Informasi Keluarga (SIGA), terdapat 463 keluarga berisiko stunting di Kecamatan Kaubun. Rinciannya, Desa Bumi Etam sebanyak 216 keluarga, Bumi Rapak 15 keluarga, Bukit Jaya 61 keluarga, Cipta Graha 22 keluarga, Kadungan Raya 52 keluarga, Pengadan Baru 32 keluarga, Mata Air 23 keluarga dan Bukit Permata 42 keluarga.
Yuriansyah menegaskan, data tersebut menjadi dasar untuk menentukan bentuk intervensi yang dibutuhkan masing-masing keluarga. Salah satunya melalui edukasi, pendampingan dan pemberian makanan tambahan.
Dalam kegiatan itu, DPPKB Kutim juga menyerahkan bantuan makanan tambahan dari Baznas Kutai Timur secara simbolis kepada sejumlah keluarga berisiko stunting.
Bantuan untuk periode lainnya akan diteruskan kepada sasaran melalui petugas PLKB di Kecamatan Kaubun. Layanan jemput bola tersebut juga diisi materi penanganan KRS oleh JFT DPPKB Kutim, Agustina, serta pemaparan perkembangan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Anak Stunting (Genting) oleh Staf Bidang KS DPPKB Kutim, Nindya Asriningsih.
Sementara itu, Camat Kaubun, Saprani, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia berharap edukasi dan pendampingan yang diberikan dapat memperkuat upaya pencegahan stunting di wilayahnya.
“Kita berharap beberapa tahun ke depan tidak ada lagi stunting di Kecamatan Kaubun. Ini bukan hanya harapan saya, tetapi harapan kita semua,” ujarnya.
Kegiatan turut dihadiri Kabid Penyuluhan dan Pergerakan Yunita Ronting, Kabid Ketahanan Keluarga Sejahtera Ani Saida, Kabid Keluarga Berencana Mustika, perwakilan Dinkes, Perkim, Dikepang, Babinsa, Bhabinkamtibmas, TP-PKK Kecamatan, keluarga penerima PMT, Tim Pendamping Keluarga (TPK), penyuluh KB, serta jajaran DPPKB Kutim.
Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar penanganan keluarga berisiko stunting tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi berlanjut hingga keluarga mampu keluar dari berbagai faktor risiko.(*)


















