TIGA PROGRAM prioritas utama Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Ialah infrastruktur, listrik, dan air bersih. Ketiganya merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat.

Dari ketiga hal tersebut, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang saat ini berubah menjadi Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PerumDAM) Kutim ikut ambil bagian.

Ialah masalah penyediaan pelayanan air bersih. Ya, PerumDAM memiliki peran besar menyediakan air bersih untuk masyarakat Kutim. Tak hanya di Sangatta, akan tetapi menyebar di 18 Kecamatan. Baik dalam kota hingga ke pelosok desa.

Secara bertahap hal ini mulai terwujud. Untuk dalam kota, sudah terpenuhi mencapai 90 persen. Sedangkan desa-desa masih sekira 50 persen. Dengan target 60 persen. Kata lain, dari total yang terlayani sebanyak 53 desa.
“Tetapi secara umum, sudah 18 kecamatan terlayani,” ujar Direktur Utama PerumDAM TTB Kutim, Suparjan ST.
Tentu saja, untuk mewujudkan pelayanan maksimal tidaklah mudah. Perlu keberanian, ketulusan, dan niat yang besar. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Pastinya banyak rintangan yang menerjang. Namun semua wajib dihadapi dengan ikhlas.
Hasil perjuangan tersebut, kini mulai dinikmati. Sudah 18 kecamatan teraliri air bersih. Diakui, memang belum menyentuh seluruhnya. Namun berjalannya waktu, hal itu dipastikan akan terwujud.
“Lagi-lagi kendala infrastruktur kita. Anggaran kita. Terapi akan terus kita perjuangan sehingga semua desa bisa teraliri air bersih,” katanya.
Jauh kebelakang, Suparjan menceritakan di masa susah dahulu. Katanya, PDAM berdiri sejak tahun 1994. PDAM pertama di Agus Salim Sangatta Utara. Sedangkan untuk PDAM Kabo, dimulai tahun 2007.
Sebelumnya, Direktur Utama PDAM ialah Ir. Jabangun Simamora. Ia menjabat mulai 2002- 2005. Kemudian Heri Agus Utomo, SE sebagai Direktur Umum dengan tahun yang sama.
Selanjutnya, Aji Mirni Mawarni, ST, MM pada tahun 2008-2018 dan terkahir Ir. Suparjan, ST dari 2018- sekarang.
“Sekarang kita sudah mulai menikmati hasilnya. Kita memiliki 13 hektar luas tanah, dengan jangkauan 100 tahun ke depan. 330 total pegawai, dan 41.121 pelanggan,” katanya mengenang masa lalu.
PerumDAM lanjut dia, memiliki tujuan yang jelas. Visi dan misi yang terarah. Visinya ialah terwujudnya PerumDAM (PDAM) yang sehat dan Mandiri.
Misinya ialah menyediakan air minum yang berkualitas dan kuantitas yang cukup, kontinuitas pengaliran 24 jam setiap hari. Kemudian, menurunkan kehilangan air hingga maksimum 20 persen, meningkatkan cakupan pelayanan di wilayah perkotaan hingga 80 persen dan desa 60 persen. Selanjutnya mewujudkan tarif full cost recovery, dan mewujudkan SDM yang profesional, beriman, dan bertakwa.
Dari tujuan ini, PerumDAM sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan. Diantaranya kinerja BUMD Air Minum (AM) Sehat dengan Dukungan dan Komitmen Penyertaan Modal Daerah. Kemudian, Digital Tranformation Award dari Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI) dan lainnya.
“Secara bertahap semua akan kita wujudkan. Kita minta doa dan dukungan semua masyarakat Kutim,” kata Suparjan.
Tak hanya itu, dirinya juga meminta kepada media agar terus mendukung dan menjadi mitra PerumDAM. Yang mana hal ini terus sudah berjalan sejak lama.
“Mari memberikan dampak positif. Mempererat silaturahmi antara PDAM dan media. Dalam rangka memberikan informasi yang mendidik, akurat, dan seimbang dan sesuai fakta,” pintanya.
Diakhir tahun ini juga, PerumDAM TTB mengajak media menggelar kegiatan bersama. Ialah Media Gathering. Sasarannya memantau pengolahan air minum di IPA Kabo dari awal hingga pendistribusian ke masyarakat.
Suparjan tak sendiri. Ia dikawal Direktur Teknik Galuh Boyo Munanto. Di sana, keduanya menjelaskan Sistem Penyediaan Air Minum (Spam). Katanya Spam terbagi 4 bagian. Pertama, air baku, produksi, distribusi, dan pelayanan.
“Tujuannya, pertama tersedianya pelayanan air minum, terwujudnya pengelolaan air minum dan pelayanan yang berkualitas, tercapainya kepentingan semua pihak, dan tercapainya penyelenggaraan yang efektif dan efesien,” katanya.
Lebih jauh, Suparjan memaparkan sebelum terdistribusi ke masyarakat, maka air sungai terlebih dahulu di masukkan ke dalam bangunan penyadap air atau intake. Kemudian di pompa ke proses prasedimentasi. Tujuannya ialah untuk menghilangkan partikel diskrit, pasir, lumpur, maupun material kasar lainnya.
“Kemudian terakhir ialah pengolahan air baku melalui proses fisik, kimiawi, dan biologi sampai menjadi air minum. Selanjutnya baru di salurkan ke masyarakat,” jelasnya. (dy)


















